Thursday, December 7, 2006

Blaine in the Making

can we find a way to make a magic happen
answer to this is yes
believing in the heart is
depending on feelings is

when you gave your hand to me
and said hello
then I can’t hardly speak
hardly move
my heart was beating so
watching you loving me

when I reached your hand
and said hello
then it’s growing since
the magic of life
happen right in front of us

my heart still beating so
watching you loving me
my heart keeps beating so
watching me loving you
magically grows

Titik dan Koma : Aku dan Kamu

Setiap kau membuka mulutmu, ada hening disana
Waktu berhenti menunggu perkataanmu
Jantungku berdetak lebih cepat menanti kalimatmu
Hatiku berdegup lembut karena ucapanmu

Setiap kau mengeluarkan kata-kata, ada momen disana
Otakku membuka galian, menggali perkataanmu
Vena dan arteriku mengalir lebih deras karenanya
Mengalirkan madu, menelusup ke jantungku
Mengalirkan susu, meresap ke dalam hatiku

Hatiku teremas lembut akan ucapanmu
Kepalaku mengawang di udara
Bulu mataku melentik
Hatiku meledakkan bom madu

Setiap titik tak menjadi debu
Setiap koma tak menjadi abu
Setiap titik menjadi deru
Setiap koma menjadi seru

Setiap titik memberi nafas baru
Setiap koma memberi pengertian baru
Akan hidup
Akan diriku
Akan dirimu

Betapa aku menyayangimu karena semua itu
Jangan bilang kau bingung
Karena aku pun tak tahu, aku pun bingung
Ternyata kita sama-sama bingung.

Friday, September 22, 2006

bhineka tunggal ika

Aku tak mengerti mengapa perbedaan selalu menjadi masalah. Bahkan bagi mereka yang katanya moderen. Mereka yang mengaku intelek dan selalu mengumbar akan toleransi segala perbedaan. Baik masalah politik, agama, ras, pendapat, dan segalanya. Segalanya. Mngapa selalu mejadi masalah? Berarti mereka menjadi munafik terhadap dirinya sendiri. Kafir bagi keyakinan dan pendapat mereka sendiri. Baiklah, bagian manakah dari perbedaan yang buruk? Sedari duduk di bangku sekolah kita dijejali dengan nilai nilai moral Pancasila, dari yang namanya masih PMP lalu diganti menjadi PPKN, Kewiraan, Pendidikan Pancasila, penataran P4, apalagi silakan sebutkan. Intinya disitu adalah kita sebagai bangsa Indonesia ditekankan untuk menghormati perbedaan dan melakukan toleransi terhadap segala bentuknya. Apapun itu.

Bhineka Tunggal Ika. Berbeda beda namun satu. Konon itulah slogan dan dasar dari rasa ke-Indonesiaan kita. Niscaya slogan ini kadang hanya menjadi pajangan wajib di antara foto presiden dan wakil presiden di tembok sejagat nusantara ini. Aplikasinya belum tentu sesuai dengan segala arti dan perlambang dari setiap unsur gambar dan tulisan di burung garuda itu.

Segala perbedaan itu saya percaya baik, semua tergantung bagaimana manusianya bertindak. Seperti yang baru saja terjadi, ucapan Paus Benedictus XVI yang menyinggung umat Islam. Saya bukan bermaksud memihak, tetapi ini memang isu rentan konflik. Agama, dasar keyakinan manusia. Bila semua pihak dapat menanggapi dengan baik, pasti tak akan terjadi suatu apa bukan. Jangan mudah terpicu amarh, itu saja inti dari bertoleransi. Lalu perbedaan agama ini seringkali menjadi masalah kala memadu kasih. Dua insan berbeda ini menganut asas Bhineka Tunggal Ika yang diyakini dan dijejali sejak kanak-kanak, dan tiba-tiba mendapatkan penolakan kanan kiri, baik dari keluarga, pemerintah, KUA, budaya dan peraturan hukum. Salah satu harus mengorbankan ‘hal pembeda’ tersebut hingga ada ‘persamaan.’ Tak lagi bhineka. Atau pergilah ke ujung dunia, maka ‘perbedaan’ tetap ada.

Bhineka. Lucu. Itu yang saya lihat. Agama masih bagian kecil dari SARA, hal yang tabu untuk tidak ditolerir dalam kehidupan bermasyarakat. Itu yang saya dapat dari pelajaran sekolah. Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan. Suku dan Ras ini juga seringkali menjadi perbedaan yang amat dipermasalahkan. Masih dalam hal memadu kasih, tak ada penerimaan jika tidak ada persamaan. Penyatuan perbedaan? Asimilasi budaya? Bukankan bangsa kita telah mengalaminya beratus-ratus kali? Banyak penganut chauvinisme ini tak sadar, kalau banyak unsur dari budayanya merupakan hasil asimilasi dari budaya lain seperti budaya barat, islam, eropa, dan lainnya.

Jika saya sebutkan satu persatu, kita akan mengulang pelajaran sejarah dari SD sampai SMA. Dan dari pengamatan saya, semua perbedaan SARA yang ditolak lingkungan perihal memadu kasih. Bila berkaitan dengan bule, londo, orang asing saja, semua penolakan luluh. Sepertinya menjadi sah, oke, lumrah, bila dikaitkan dengan mereka. Memangnya mereka siapa? Apakah perbedaan yang mereka miliki berbeda dan lebih baik dari kebhinekaan Indonesia? Siapa yang menilai? Saya tidak akan membahas masalah devisa negara, cukup. Heran bukan? Ternyata lingkungan tersebut masih ingin mengalami asimilasi budaya, tapi bukan dari Indonesia. Lucu, sungguh lucu.

Pengalaman teman-teman pun kadang membuat saya tak habis pikir. Bagaimana dengan modernitas pikiran yang katanya diyakini lingkungan mereka. Sejauh mana modernitas manusia Indonesia mentolerir ke-bhineka-an yang nyatanya ada di sekitar kita? Hmm, dan saya akan menambahkan masalah yang belakangan semakin sering muncul ke permukaan. Homoseksualitas. Ya, mereka berbeda, mereka mungkin deviasi sosial. Tapi nyatanya mereka ada. Sekali lagi, pertanyaannya adalah sejauh mana modernitas pikiran kita mentolerir ke-bhineka-an di sekitar kita? Jika kaum homoseksual ternyata adalah teman baik Anda sendiri, atau bahkan Anda sendiri, bagaimana menyikapinya? Apakah Anda akan menjadi munafik dalam artian mengaku berpikiran modern, intelek, maju hingga mampu mentolerir perbedaan namun menolak mereka atau diri Anda. Atau Anda menjadi manusia yang berpendirian teguh pada keyakinan Anda, yang berarti menerima mereka atau Anda sebagai warna bhineka dalam kehidupan bermasyarakat? Saya tak mau berpanjang-panjang membicarakan homoseksual. Kalau Anda bingung dengan pandangan saya, jika Anda membaca seksama, Anda tahu bagaimana saya memposisikan diri dalam masalah ini.

Sekali lagi pertanyaannya adalah: sejauh mana modernitas pikiran kita mentolerir ke-bhineka-an yang nyatanya ada di sekitar kita?

Sejauh mana Anda berani memperjuangkan keyakinan Anda?

Monday, September 18, 2006

a piece of bakpao

pipinya merona
tanda hati berbunga
pun harinya melelahkan
ia tahu ada seorang menyayanginya
hatinya tahu siapa yang menjaganya

pipinya yang seputih bakpao bersemu
hatinya yang sehangat bakpao panas membuncah
bagai isi daging yang sarinya melesak
meresapi pori roti putih
pun mengembang dan berkembang
bagai bakpao hangat, menggoda

galau pada bulan

Kala bulan merindu
Hati ini pun merindu
Hadirnya malam menambah sendu
Senyapnya malam menusuk kalbu

Gundah berkelana
Sigap dan tangkas menyelinap setiap sudut otot raga
Berderai mengikuti derasnya darah mengalir
Masuk, mengalir, lalu menguap

Semuanya merasuk.
Semuanya membusuk.

Ingin rasanya memarahi bintang karena bersinar
Menonjok bulan karena keindahan purnama
Ia meringkuk disana, risau akan kecantikannya
Sinarnya menambah aura amarah

Semuanya terlalu indah, menyilaukan mata,
Membutakan hati, tersilap galau
Is it to good to be true
Atau aku yang terlalu marah?

andini, desember 2005

feed love

Not long after midnight, in that free zone
The state that brings dream symbols
That surprise the dreamer
Cause he thinks he’s awake
He slips into a sort of enforced darkness
The dream carries no visual impressions,
only sound and feeling

Love is light that surely glows
In the hearts of those who know
It’s a steady flame that grows
Feed the fire with all the passion you can show
Tonight love will assume its place
This memory time cannot erase
Your faith will lead love
Where it has to go

andini, agustus 2006

Wednesday, August 23, 2006

Monday, August 14, 2006

loving is loving

I can't tell if this is a path or an adventure. I just let it flow. For life is once in a lifetime though I believe in what so called a reincarnation, this is what I live on now.
  • Loving my family, for my existence in the world rely on them. For the blood running in my veins. Trying my best to make them proud which is a hard thing to do. For everything they have done for me.
  • Loving my lover, as there is no tomorrow. For we don't know what is ahead of us. For our love is protected with love itself.
  • Loving all my friends. For friends are precious jewels of life. They are our closest sisters and brothers we can rely on.
I can mix and match the sentences followed, but it would be the same. I don't think your heart, my heart, afford it loosing one of them.

I appreciate and love them above since they are the best ever happen in my life. Could not ask for more to God.
Since wealth is nothing without love
.

Come what may. But as I live my life now to God I pray there would not be any regrets in the future. I experience them, I love them, I spend my time with them, I do my best.

for all of you in my life. thank you for make life even merrier

Friday, August 11, 2006

cintaku?

samudera menghampar luas
haru membiru
dalamnya pun buas
maka demikian cintaku

karna sungai mengalir panjang
berujung air terjun deras
beriak dan tenang
maka demikian aku puas

karna angkasa tak berujung
nol gravitasi merajam tubuhku
hamparan sinaran bintang
maka demikian cintaku

cintaku seperti bunga
tuk dirawat dan berkembang
cintaku seperti doa
tuk berharap dan dipanjatkan

bintang

dalam kegelapan
aku mencari dan mencari
secercah binar mentari di pelupuk kelam
rasa sepi dan pasi yang hinggap
meringkuk sontak di keriaan hati
hingga perasaan ini melolong bagai serigala
ingin melepaskan suatu asa dan rasa
yang ada hanyalah bayang-bayang
aku berharap dan berharap
dapat menjadi bintang terang
yang terus bersinar meski dalam kelam
entah apa yang ada di anganku

andini, februari 2006

heroine

We can only learn to love by loving
in this preserveness acting
listening, caring, giving,
loving, kissing, tendering

For love is a heroine
you will not underestimate
the power of obsessive love

above all else
love itself is a gift

it frees us from all the weight and pain in life
the happy memories surround as an aura
it protects you from hate
it recovers you from age

For love is a heroine
you cannot resist the desire
to be loved and to love
the irresistible desire to be irresistibly desired

andini, april 2006
While we have the gift of life, it seems to me that the only tragedy is to allow part of us to die -- whether it is our spirit, our creativity, or our glorius uniqueness.

Wednesday, August 9, 2006

PLAYBOY: a bit of sweet history

PLAYBOY Indonesia was first published on April 2006. Early before the launch of the magazine, it already gains massive protest although many still support to make the dream happen.
 At the time of the launch, it gained another massive protest that lead to destruction of the head office. The office was evicted by the building management due to the damages from the protesters, and rumor has it (we created it) that the office was relocated to Bali. Though that part was also true, we had this office down at Seminyak area, but the main operations were still in Jakarta.
It didn’t stop there. The crews must face police authority, held as witnesses and suspects for creating and distributing pornography to the public. Three of the crew members got on trial. It was a huge phenomenon that a magazine like Playboy launches in this country.
But it was a jolly ride, having to work with all of those circumstances, with a solid team, and with laughter and all the fun of life.This was the cover of the premiere issue.



Cover: Andhara Early; Foto: Okke Gania
 

There were many coverage from national and international media. Some discussed the disappointments from expecting readers, some discussed how the magazine enrages the society. Some also supporting the magazine and creativity that blew your heart.
But, the Playboy issue opened up a new matter in this country. The Pornography Act, which basically rule people actions, whether in society and or mass media that can be described as porn action. This act gained a bigger controversy than what created by the magazine itself, many declined this act. 
As for this time, the country is still facing its morality. Whether this country choose to be considered as this morally graceful but being hypocrite of all this matter. Or, face that we are already in the global community, and we should and we are suppose to open minded, grab reality and respect all the diversity that the country has. 

i really love the way

you look at me,
you gaze at me,
mesmerizing

even at a glance,
i still feel adored
by your sparkling tired eyes
truly do

the way you smile at me
when I tell you my activities
the way you hold my hands
when I tell you my problems
the way you laugh..and make me laugh
for funny weird stories we share together
the way you caress me..
for questions I ask you

your moves kissing me
your passions touching me
your hands rubbing down my body

because all of that, I cherish you
feel extraordinary happy being with you

it's really great to be with you...
yes, you


andini, march 2006

Tuesday, August 8, 2006

when you drunk

you lost consciousness
yet consciousness profounded
you grasp reality
from another point of view

sights you see distant from reality
things you do distinguish from human
words you spell emerge from deepest thoughts
actions you act acquainted with animals

you want hugs
you crave for caress
you stroke for a kiss
your desire is irresistible

you'd kill for them

besides you know all of this.
you just forgot

things happen

don't think I have a big ego
just because I call myself a hero
anybody can be a hero
even after they're dead.

everyone have a big ego
might leads them to the death
of good deeds
or even love

push ego down hard
then things will come around
love comes back to you
in good deeds they flew

things don't wait for you to believe them
they happen

God is not Tinkerbell
He does what He does
whether you clap your hands
or hide behind the comfort of your disbelief

Monday, August 7, 2006

nafas nafsu

ketika malam pergi meninggalkanku,
ada pertikaian di dadaku
melesak ingin keluar
membuncah ingin meledak

ketika kau datang menghampiriku,
ada desir di dadaku
melesak ingin mencumbu
membuncah ingin dicumbu

ketika mereka menghampiriku,
ada kepuasan di hatiku
bernafaskan nafsu
bernafsukan cinta

cinta dan nafsu
menipis untuk terpisah
siapa di antaramu
yang merajai hatiku

where are you

I see the stars
eyes filled with tears
tears of joy
sadness to destroy

magic is
the feeling emerge
rising from the deepest skin
floating from the deepest heart

can't you see
I swam in the sea
just to see you
pounding my heart

Thursday, July 13, 2006

PLAYBOY - advertorial Oakley

please show credits

PLAYBOY - celebrity Fla

In this photo: Xochityl Priscila, Photo: Okke Gania, Text: Andini Darmadi
Please show credits.

PLAYBOY - ciu challenge

This was insertion for article titled Generasi Penenggak Arak written by Alfred Ginting.

Please show credits. 

PLAYBOY - playmate Doriane

June 2006 cover: Doriane; Photo: Okke Gania
text by Andini Darmadi
On the second edition, the magazine featured a French nation girl. The famous line from her was, "It is Playboy but I don't have to be naked. That's perfect."

Please show credits.